By : Purwanto
“Kita kan keluarga kaya, Yah, masa beli ayam bakar aja nggak mampu!” Ruly bersungut-sungut.
“Kan sudah dimasakin sop, telur dadar sama tempe goreng. Mubadzir kalau mesti beli ayam bakar,” kata Ibu.
“Bosan! Itu kan makanan orang miskin, nggak enak.” Ruly cemberut. Ditatapnya meja makan dengan bibir mencibir.
“Ruly, dengar kata Ibu…”
“Ruly pengen ayam bakar, Bu!” Ruly bersikeras.
“Sudah Ruly, ayo makan. Ayah ambilin, ya?” bujuk Ayah.
Ruly menggeleng, Ibu menghela napas panjang.
“Sudah, ayo keluar sama Ayah.” Ayah yang sedari tadi diam berdiri dari kursi makan.
“Tapi, Yah…” Ibu memandang Ayah.
“Nggak apa, Bu,” kata Ayah pelan.
Ayah mengangguk kecil, Ibu memandang Ayah lalu balas mengangguk.
“Asyiik, beli ayam bakar.” Ruly melonjak girang.
Ruly senang, dia naik mobil bersama Ayahnya. Habis membeli ayam bakar tiga porsi, tanpa nasi. Di rumah makan yang agak jauh dari rumah Ruly. Tapi Ayah tidak langsung ke rumah melainkan mampir ke rumah Pak Parman, tukang sampah di kampung tempat tinggal Ruly. Rumah Pak Parman berjarak beberapa gang dari rumah keluarga Ruly.
Ayah menghentikan mobil di mulut gang. Lalu turun diikuti Ruly. Ayam bakar yang berada dalam tas plastik berada di tangan Ayah.
“Mungkin Ayah mau nyuruh sesuatu pada Pak Parman,” pikir Ruly.
“Tapi kenapa bungkusan ayam bakarnya dibawa Ayah?” pikir Ruly lagi.
Ayah dan Ruly duduk di ruang tamu rumah Pak Parman. Yang sekaligus ruang keluarga dan ruang tidur, ada sebuah dipan di pojok ruangan. Anak-anak Pak Parman yang masih kecil-kecil, balita dan usia TK, bermain-main di dipan.
“Maaf Pak Rahmat, rumahnya berantakan begini,” kata Pak Parman.
“Nggak apa Pak Parman, sama saja, kok,” sahut Ayah.
“Saya permisi ke belakang dulu,” kata istri Pak Parman.”Nak Ruly suka teh atau kopi?”
“Oh, nggak usah repot-repot, Bu. Ibunya Ruly sudah nunggu buat makan malam. Ini, saya cuma mau ngasih sedikit oleh-oleh. Tadi kebetulan jalan-jalan sama Ruly.” Ayah meletakkan bungkusan ayam bakar ke meja.
Bu Parman meraih dan membukanya. Wajahnya berseri.
“Waah, ayam bakar. Tina, Tini, Tono, ini ada ayam bakar dari Pak Rahmat. Kalian kan belum makan, ayo.”
Tiga anak Pak Parman menghampiri dan bersorak-sorak girang. Ada yang berkata sudah lama sekali tidak makan ayam bakar. Ruly hanya memandang itu semua. Keluarga Pak Parman berterima kasih pada Ayah dan Ruly.
Di mobil. Ruly diam.
“Kamu ngambek ayam bakarnya Ayah kasih ke Pak Parman?” tanya Ayah.
Ruly tersenyum.
“Hehe..nggak, Yah. Ruly ngerasa kasihan. Mungkin kalau Ayah nggak ngasih ayam bakar, mereka malam ini makan lauk seadanya, ya…”
“Jadi?”
Ruly nyengir.
“Ruly lapar, Yah. Pengen makan masakan Ibu.”
“Lho, masakan Ibu kan nggak enak?”
“Ayah jangan ngeledek!” Ruly manyun, pura-pura ngambek.
Ayah tertawa.
Surabaya, September 2007 :majalah Aku Anak Saleh
Advertising : http://purwantoontheweb.blogspot.com
Thursday, February 7, 2008
Ayam Bakar Ruly
Posted by Admin at 10:10 AM 0 comments
Labels: Cerita anak
Wednesday, February 6, 2008
Senyum Itu Sedekah
by : Evyta A.R
Namanya Nabila, panggilannya Bila. Ia sekolah di TK Islam Bunaya. Siang itu Nabila pulang sekolah diantar oleh Pak Toto, supir mobil jemputan sekolah.
Keluar dari mobil Nabila teringat dengan kata-kata bu guru di sekolah. Kata bu guru, harus banyak tersenyum. Lalu Bila menyapa Pak Toto sambil tersenyum, “Terima kasih, Pak. Bila masuk dulu ya...” katanya pada Pak Toto.
“Hati-hati ya Bila. Besok Bapak jemput seperti biasa.” Ujar Pak Toto.
Nabila melambai ke arah teman-temannya di dalam mobil. Lalu mobil jemputan pun melanjutkan perjalanan untuk mengantar teman-teman Nabila pulang.
Sesampai di pagar rumah, Bunda sudah menunggu. Bila tersenyum pada bundanya.
“Ayo Bunda, Bila sudah lapar...” kata Nabila sambil berlari memasuki rumah.
Bunda hanya tersenyum saja melihat tingkah Nabila. Nabila mencuci tangan dan kakinya lalu mengganti pakaian sekolah dengan pakaian rumah. Dia mengenakan baju terusan dengan rok berenda, cantik sekali. Setelah bersih-bersih, Nabila makan siang ditemani Bundanya.
“Bunda masak apa hari ini ?” tanyanya dengan penuh semangat
“Masak sup ikan, sayang...makanan kesukaan Nabila” jawab sang Bunda.
“Waahh... Bila suka sup ikan Bunda, kalau Bunda yang masak pasti enak, kan pinter masak. Nabila sayang deh sama Bunda” kata Nabila sambil memeluk Bundanya.
“Bunda juga sayang sama Bila....nah, sekarang Bila makan dulu ya. Jangan lupa doa mau makannya” sahut Bunda dengan senyum lebar.
Nabila mengangkat kedua tangannya sambil mengucapkan doa mau makan. Usai berdoa, Bunda menyuapkan sesendok nasi ke mulut Nabila.
Selesai makan, Nabila berdoa lagi, doa sesudah makan lalu Ia duduk di pangkuan bundanya dan bertanya,
“Bunda..Bunda…tadi kata bu guru di sekolah…senyum itu sedekah lho…bener ya Bun ?”
“Iya sayang, betul sekali...pinter anak bunda sekarang”, jawab bunda sambil membelai rambut Nabila.
“Memangnya sedekah itu apa sih, Bunda ? Bila ngga ngerti deh” tanya Nabila lagi.
“Sedekah itu…kalau Bila memberikan sesuatu kepada orang lain, apa saja boleh” jawab bunda
Bila diam sesaat sambil mengkerutkan dahinya, mungkin sedang berfikir. “Kalau begitu, sedekah itu berpahala dong, Bunda” katanya lagi.
“Betul sekali, makin pinter aja anak Bunda nih. Jadi...kalau Nabila senyum pada orang lain, Nabila sudah bersedekah, begitu kata Rasulullah” jelas sang Bunda
“Trus..trus...Rasul bilang apa lagi Bun ?”
“Kata Rasul, ‘senyummu di wajah saudaramu adalah sedekah’. Nah, jadi kalau Bila senyum, Bila mendapat pahala” lanjut Bunda
“Kenapa begitu Bunda ?” tanya Bila lagi
“Karena senyum Nabila sudah membuat orang lain senang”
“Senyum juga sifat dan akhlak terpuji lho...kalau akhlak kita terpuji, banyak yang menyukai Nabila nanti” lanjut Bunda
“Trus Bila nanti senyum ke siapa aja Bunda ?” Nabila masih bertanya pada bundanya.
“Ya ke teman-teman, bu guru, ke saudara kita....ke orang yang lewat di depan kita...macem-macem sayang..”
“Kalau gitu bisa dapat banyak pahala dong Bunda, bisa masuk surga juga dong Bun ?” balas Nabila dengan semangat
“InsyaAllah.... kalau Nabila senyum dengan tulus, Nabila mendapatkan pahala” Kata Bunda.
“Tulus itu apa sih, Bunda ?” Nabila semakin ingin tahu.
“Tulus itu kalau Nabila memberi sesuatu kepada orang lain tapi tidak meminta balasan atau pujian dari orang lain. Dan juga memberinya harus dengan senang hati...” jawab Bunda.
“Ooo....begitu ya Bunda. Nabila baru tahu sih” lanjut Nabila.
“Iya ngga apa-apa sayang, kan baru belajar sama Bunda” kata Bunda
“Tapi...kalau Nabila senyumnya terpaksa, malah bisa jadi cemberut deh..hehe” Lanjut Bunda lagi.
“Kenapa kalau cemberut, Bunda ?” lanjut Nabila.
“Kalau cemberut kan jadi jelek wajahnya, jadi tidak bagus dilihat” jawab Bunda lagi
“Oo...Iya ya Bunda...cemberut kayak gini nih Bunda...” Sambil memperlihatkan wajah cemberut yang sangat lucu pada Bundanya.
Bunda dan Nabila pun tertawa bersama. Hari ini Nabila mendapat pelajaran baru dari Bundanya, bahwa senyum itu sedekah. Anak yang suka bersedekah akan mendapat pahala dari Allah. Kalau banyak pahala, Allah akan memberi hadiah surga yang sangat indah.
Posted by Admin at 5:29 AM 0 comments
Labels: Cerita anak








